Salurkan Kepedulian Anda melalui:

Bank Syariah Mandiri (BSM)
Rek. No. 003.012.4084
a.n. Eramuslim - ACT

Bank Central Asia (BCA)
Rek. No. 676.030.3028
a.n. Aksi Cepat Tanggap - Eramuslim

Total Dana Terkumpul:
Rp 683.997.730,-

Program ini adalah kerjasama antara ACT - Aksi Cepat Tanggap dan Eramuslim

“Jalan Putus, Bantuan Lewat Sungai, Relawan Lolos Dari Kejaran Buaya”

28 December 2006

Banjir setinggi 3 meter mengepung Desa Tanjung Belit, Kampar Hulu, Riau pada  (22/12)  lalu akibat hujan lebat sepanjang hari, sehingga menyebabkan sungai siak meluap dan memasuki rumah-rumah penduduk. Dua orang Relawan SU (Swadaya Ummah) Jejaring ACT di Riau,  Verdi dan Novian disusul Haris (tenaga medis) telah berada di Lokasi sejak banjir besar pertama yang terjadi di Desa Tanjung Belit pada (28/11).

Aktivitas yang dilakukan berupa tindakan emergency dan recovery pasca banjir. Bantuan tahap I dari pembaca Riau Pos telah disalurkan dalam bentuk makanan, obat-obatan, dan perlengkapan rehabilitasi fisik. Banjir menyebabkan sulitnya mendapatkan air bersih karena sumur warga tertimbun lumpur, maka kegiatan relawan melakukan aktifitas penyedotan lumpur sudah 30 rumah warga yang kini sumurnya dapat kembali normal, Membersihkan MDA dari lumpur termasuk pengecatan, menghidupkan kembali aktifitas MDA juga memberikan AL Qur’an dan Buku Iqro’ serta FGD (Forum Group Discussion) bersama warga setempat untuk tindak lanjut ”Tanjung Belit Recovery Programme”.

Apa daya walaupun sudah direncanakan FGD lantas terhenti karena pada (22/12) Desa ini kembali dilanda hujan lebat seharian sejak pukul 07:00 WIB. Tim segera menyiapkan tenda untuk tempat mengungsi warga. Persiapan ini untuk mengantisipasi banjir besar yang mungkin terjadi.

Berikut ini kisah dari Dwi Purwanto, Penulis Direktur dari Swadaya Ummah: "Aktivitas Warga Desa Tanjung Belit terhenti ketika hujan semakin lebat dan bibir sungai mulai menampakkan arus yang kuat dan air mulai naik. Verdi melaporkan ke Posko Induk melalui SMS bahwa kondisi cuaca sangat gelap dan di hulu hujan sangat lebat maka diperkirakan akan terjadi banjir lebih besar daripada banjir pertama 28 November 2006. Mereka (relawan) bersama masyarakat membuat camp tempat pengungsi. Warga trauma untuk kembai ke rumah. Relawan SU mengarahkan para pengungsi yang berjumlah 720 orang ke dua tempat di kaki bukit dan jembatan.

Di sana telah tersedia tenda-tenda darurat. Saat air melimpah ketinggian 3 meter pukul 19:00 WIB rumah-rumah warga semuanya tenggelam, jalan putus dan terkepung. Ibu-ibu histeris karena suasana gelap dan mencekam. Ada anak-anak balita dan ibu hamil. ”Bang tolong segera kirimkan bantuan makanan siap saji, jalan putus, lewat sungai atau naik heli," ujar  Verdi ke Posko Induk via telpon. Saat itu Pekanbaru juga diguyur hujan sangat lebat seharian. Maka Tim yang ada di Pekanbaru hanya bisa berkoordinasi. Esoknya (23/12) Tim Emergency 2 tancap gas menuju lokasi, pukul 12 siang dari Pekanbaru sampai di Lipat Kain pukul 4 sore, dan jalan ke Kuntu putus. Kami balik arah mencari perahu motor walaupun harus menyewa 700 ribu rupiah, pukul 5 sore kami berangkat dengan membawa makanan siap saji seberat 300 kg. Karena perahu motor terbatas maka bantuan yang dibawa pun terbatas.

Arus di sungai sangat kencang perahu motor melawan arus menuju Tg. Belit. Jalan lewat sungai sampai ke lokasi sekitar 40 Km. Jam 6 sore kami tiba di Jembatan Kuntu dan terus menuju Tg. Belit. Kondisi Malam hari perjalanan melalui sungai adalah pengalaman pertama kami. Yang ikut di Perahu Motor adalah saya sendiri---Dwi Purwanto dan Nuryasin (General Support). Sedangkan awak perahu dua orang. Bagi kami bagaimana bantuan ini cepat diterima warga karena mereka sudah menunggu, kami tidak ingin ada korban jiwa karena kelaparan. Pukul 8 malam perahu yang dinaiki mogok rupanya minyaknya habis. Terus diisi. Sang nahkoda sempat membuat kami tegang karena tidak tahu jalan lagi, suasana gelap dan arus sangat kencang. Kami berdua hanya menguatkan diri semoga Allah SWT memberi jalan. Dalam hati saya ”bakal terjadi apa-apa” ditambah suasana dingin. Akhirnya kami pun terus melanjutkan perjalanan. Kami belum menemukan Desa Domo sebagai titik terang menung Ds. Tg. Belit. Kami melewati pulau-pulau sekitar sungai yang tenggelam. Setengah jam perjalanan tiba-tiba kami mendengar suara keras seperti ada kayu besar yang jatuh disertai suara seperti gemuruh, kemudian bunyi yang sama kami dengar (2 kali). Setelah disorot oleh Nahkoda langsung spontan ”Aden tekajuik! ” (baca: Saya terkejut), ”ada bonda gadang” (ada benda besar, maksudnya buaya tabu bagi masyarakat mengatakan ada buaya) dengan menggunakan senter ternyata ada buaya tampak kepalanya (matanya) panjangnya tertutupi sungai. Buaya yang membuntuti jaraknya sekitar 10 meter dari perahu motor. Perahu motor pun diarahkan zigzag ke arus yang kuat dan kami merapatkan perahu dengan cepat ke sebuah rawa dan terdampar di sana beberapa saat kami keluar dan ke darat masuk hutan. Meninggalkan barang bantuan yang harusnya disalurkan. Kami berempat tidak tahu masuk hutan mana. Kami melewati rawa, sungai kecil dan hutan karet terus berjalan. Alhamdulillah kami mendengarkan suara kendaraan bermotor berarti sudah dekat dengan perkampungan. Akhirnya kami sampai di jalan disebuah desa, rupanya Desa Domo yang kami cari sekitar pukul 10 malam. Kami menjumpai dan bersilaturohim warga setempat dan menjelaskan apa yang sedang terjadi. Menurut warga setempat di Desa Domo ini memang ada danau yang terkenal dengan banyak buaya apalagi saat banjir . Sekitar satu jam kami di Desa Domo setelah kondisi kami pun tenang. Saya minta Pak Nuryasin segera telpon Komadan Lapangan Verdi, bahwa kita sudah sampai di Desa Domo dan bantuan tetap harus disalurkan malam ini juga. Verdi dan Novian serta relawan yang lain di Posko Tg. Belit meluncur. Membantu bongkar muat barang bantuan dan di bantu warga Desa Domo setelah Perahu Motor bersama warga Domo dikemudikan ke arah yang aman dan mudah untuk bongkar muat barang.. Dengan menyewa mobil warga setempat 150 ribu rupiah kami langsung ke Desa Tanjung Belit memakan waktu sekitar setengah jam perjalanan menuju Posko kami di sana. Sampai di Desa Tg. Belit kami lihat air sudah surut tetapi tenda-tenda darurat masih berdiri. Kami disambut Pak Wali (Kepala Desa) dan warga. Kami menanyakan bagaimana keadaan masyarakat dan sudahkah ada bantuan pemerintah sampai kemari? ”Bantuan dari pemerintah belum ada mungkin karena jalan putus,” ungkap salah seorang warga. (Dwi)