
Siang itu, ruang baca Rumah Belajar Anak (RBA) Kampung Muka, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, kembali diramaikan oleh suara riuh riang anak-anak. Ruang baca yang sekaligus berfungsi sebagai ruang pertemuan anak-anak yang tergabung dalam RBA Kampung Muka. Bersama beberapa relawan tamu, salah satunya Kak Shinta, anak-anak diajak bermain menyusun puzzle sederhana yang berisi gambar peta Indonesia, mewarnai gambar, dan belajar membuat mainan origami. Shinta yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Universitas Indonesia sebagai dosen matakuliah Bahasa Inggris, memang memiliki kecintaan yang besar pada dunia pendidikan anak-anak.
Hampir dalam 6 bulan terakhir, taman baca RBA yang dibuka setiap hari memiliki aktivitas rutin yang sengaja didesain berbeda dengan hari-hari lainnya. Setiap hari Jumat bagi anak-anak di sekitar lokasi Kampung Muka, selain taman baca juga diadakan aktivitas pertemuan rutin untuk anak-anak usia SD sampai dengan kelas 1 SMP sebanyak 30 anak. Di hari Sabtu, giliran anak-anak usia kelas 2 SMP sampai dengan kelas 3 SMA juga sebanyak 30 anak. Dan di hari Minggu, ruang belajar bagi anak-anak jalanan yang biasa beroperasi di sekitar Mall Mangga dua, ITC Mangga Dua, dan Stasiun Kota sebagai pemulung, kuli angkut, pengemis, dll. Anak-anak jalanan ini berasal dari kampung sebelah, bernama Kampung Dao, yang berjarak sekitar 1 KM dari lokasi RBA Kampung Muka. Jika lengkap, anak-anak jalanan yang berkumpul bisa mencapai sejumlah 40 anak. Namun sesekali mereka “berhalangan” hadir karena “tuntutan pekerjaan” mereka. Dan siang ini, 31 anak jalanan meramaikan ruang belajar RBA Kampung Muka.
Ya, sejauh ini beberapa di antara anak-anak jalanan itu terkadang masih mementingkan “pekerjaan” mereka ketimbang harus datang ke RBA. Namun tak semua anak demikian, ada beberapa anak yang sangat bersemangat mengikuti setiap kegiatan yang rutin diadakan di RBA Kampung Muka. Meski mereka harus berjalan menempuh jarak kurang lebih 1 KM menuju lokasi RBA. Sebut saja Alan (9 thn), ia berasal dari keluarga pemulung. Jika ditanya apa cita-citanya, dengan mantap ia menjawab “saya mau jadi reporter Kak…”. Dan sesekali ia menunjukan kebolehannya menirukan gaya seorang reporter yang tengah sibuk mewawancarai narasumbernya sembari mengarahkan kamera imajinernya.
Memang dibutuhkan keseriusan dari Relawan Lokal setempat Pengelola RBA Kampung Muka. Sebut saja pasangan suami istri Pak Salim & Bu Yanti. Pasangan Relawan ini dibantu dengan beberapa relawan lainnya, dengan sabar dan kreatif membina warga sekitar Kampung Muka dan Kampung Dao yang sangat rentan dengan kehidupan bebas serta keras. Di dua kampung ini, berbagai permasalahan sosial seperti kemiskinan, rendahnya kepedulian terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan, narkoba, seks bebas, KDRT, dsb sangat rentan terjadi. Realita yang demikian akhirnya menjadi dasar alasan akhirnya ACT memilih lokasi Kampung Muka sebagai lokasi dibukanya RBA. Dengan harapan anak-anak yang kurang mampu dari segi latar belakang keluarga bisa tetap memiliki skill serta kemampuan yang mumpuni untuk meraih cita-citanya di tengah realita masyarakat yang terus berubah seiring zaman. Semoga. (ACT/spa)